Ketika Jadi Relawan adalah Pilihan

Oleh: Heni Mulyati, S.Pd

Bersama Relawan Isu Anak

“Kok mau sih capek-capek ikut ginian?”
“Emang dibayar berapa? Gede gak bayarannya?”
“Aku mah gak apa-apa ikut beginian, yang penting mereka bahagia”

Ungkapan di atas akan muncul ketika kita bersinggungan dengan dunia relawan. Ada pula yang pada akhirnya memutuskan sebagai relawan secara total atau menjadi relawan di tengah perannya sebagai profesional. Entah itu relawan dalam isu pendidikan, lingkungan, kemanusiaan, dan sebagainya.

Relawan PKBI DKI Jakarta

Kalau kita lihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, relawan berasal dari kata rela yang berarti rela/re·la/ /réla/ v 1 bersedia dengan ikhlas hati:  2 izin (persetujuan); perkenan:  3 dapat diterima dengan senang hati:  4 tidak mengharap imbalan, dengan kehendak atau kemauan sendiri. Relawan artinya orang-orang yang bersedia dengan ikhlas hati, senang hati, tidak mengharap imbalan, dan atas kemauan sendiri melakukan sesuatu.

Banyak hal yang membuat pada akhirnya seseorang menjadi relawan. Dulu awalnya saya menjadi relawan PKBI DKI Jakarta di program remaja (CMM) karena diajak teman dan akhirnya jadi menikmati dunia itu sejak tahun 2001 hingga sekarang (ternyata, sudah hampir 17 tahun yah, sweet seventeen). Ada pula yang menjadi relawan karena faktor dikenalkan oleh keluarga atau orang terdekat. Atau menjadi relawan karena tugas kuliah yang harus mengobservasi lembaga tertentu, akhirnya jadi relawan.

“Stop Berita Bohong”

Apa pun pintu masuknya jadi relawan, tidak masalah. Setiap orang punya jalannya masing-masing hingga akhirnya menjadi relawan.Pertanyaannya, apakah menjadi relawan itu benar-benar pilihan atau bukan?

Sebelum menjawab pertenyaan di atas, kita perlu mengenal apa saja yang ada pada diri kita terkait dengan minat dan kebutuhan.

Minat

Menurut Witherington, H. C (1999) minat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Minat primitif atau biologis
Minat yang timbul dari kebutuhan – kebutuhan jasmani berkisar pada soal makanan, kenyamanan, dan aktivitas. Ketiga hal ini meliputi kesadaran tentang  kebutuhan yang terasa akan sesuatu yang dengan langsung  dapat memuaskan dorongan untuk mempertahankan organisme.

2. Minat kultural atau sosial
Minat   yang  berasal   dari perbuatan belajar yang  lebih  tinggi  tarafnya. Orang yang benar – benar terdidik ditandai dengan adanya minat yang benar – benar luas terhadap hal – hal yang bernilai.

Jika kita melihat pengertian di atas, maka menjadi relawan dapat masuk ke dalam minat kultural atau sosial. Pada aktivitasnya fokus pada hal-hal yang bernilai.

Kebutuhan

Abraham Maslow menyatakan bahwa dalam setiap diri manusia terdaat hierarki dari lima kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah:

  1. Fisiologis: Meliputi rasa lapar, haus, berlindung, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya,
  2. Rasa aman: Meliputi rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional.
  3. Sosial: Meliputi rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan.
  4. Penghargaan: Meliputi faktor-faktor penghargaan internal seperti rasa hormat diri, otonomi, dan pencapaian, dan faktor-faktor penghargaan eksternal seperti status, pengakuan, dan perhatian.
  5. Aktualisasi diri: Dorongan untuk menjadi seseorang sesuai kecakapannya; meliputi pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri.

Melihat kebutuhan di atas, kita dapat menentukan kebutuhan yang sudah terpenuhi dan mana kebutuhan yang akan dipenuhi. Ketika menjadi relawan, bisa jadi karena dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial, penghargaan, atau aktualisasi diri.

Masuk yang manakah kita?

Saat Acara Car Free Day, Edukasi Remaja

Menjadi relawan tentunya akan berbeda dengan mereka yang mendapatkan penghasilan profesional. Bahkan ketika berniat menjadi relawan, yang penting diingat adalah jangan pernah berharap mendapatkan keuntungan finansial atas apa yang dilakukan. Ketika niat sudah berpindah, maka akan muncul kecewa jika apa yang diharapkan tidak diperoleh.

Banyak alasan yang membuat orang pada akhirnya memutuskan menjadi relawan. Jika dilihat dari kebutuhan, pemenuhan akan aktualisasi diri adalah tingkat tertinggi. Lantas, apakah kebutuhan di bawahnya tidak bisa? Jawabannya tetap bisa. Siapa pun dapat menjadi relawan meski kebutuhannya di tahap sosial dan penghargaan.

Dunia relawan juga terkadang naik turun, saya pun termasuk yang pernah dalam tahap tersebut. Naik VS turun, aktif VS tidak aktif, dan semangat VS tidak semangat. Tidak perlu dipaksakan situasi tersebut, mungkin kita saja yang perlu mundur sejenak dan lakukan hal lain. Ketika dirasa siap, maka terjun kembali. Inilah yang dikenal di tempat kami, tidak ada istilah mantan relawan.

Hal penting yang ditanyakan dalam hati sebelum jadi relawan adalah: kenapa mau jadi relawan? Apa manfaatnya bagiku? Sebab diri kita yang paling tahu tentang diri kita sendiri. Itu saja.

 

Referensi:

Witherington, H. C. (1999). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Aksara Baru.

http://intancharamel.blogspot.co.id/2016/03/teori-dan-penerapan-teori-motivasi.html diakses 6 Juni 2017

Advertisements

8 thoughts on “Ketika Jadi Relawan adalah Pilihan

  1. Semoga relawan di indonesia mendapatkan kesejahteraan yg layak , dan mendapat perhatian lagi dari pemerintah …

    Amiiinnnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s